Artikel

05-Nov-2017

Fr. Ant. Joko Hermawan

PEWARTAAN MENINGGIKAN & BUKAN MERENDAHKAN

sumber: https://www.google.co.id/search?q=siapa+meninggikan+diri+akan+direndahkan&hl=en&authuser=0&tbm=isch&source=lnt&tbs=isz:m&sa=X&ved=0ahUKEwjrp8vyzLPXAhUEjpQKHS6nAC0QpwUIHQ&biw=1366&bih=636&dpr=1#imgrc=9uyzMYWARdKEjM:

Saudari dan saudara sekalian, semoga kita selalu mengingat tentang istilah “Trimunera Christi”. Istilah ini menyangkut tentang tiga tugas perutusan utama Kristus di dunia. Tugas itu sekarang menjadi panggilan yang wajib dilakukan oleh para murid Kristus. Tidak bisa tidak ... orang yang mengaku sebagai murid Kristus wajib melaksanakan tiga tugas itu, yakni: (1) menjadi pemimpin (rajawi), (2) menjadi guru/pengajar (nabi), dan (3) menjadi pendoa/pengudus (imami).

Waahh ... kok rasanya berat sekaliii...?? Tidak. Bagaimana pun juga ketiga tugas itu bisa kita lakukan dalam hal-hal yang paling sederhana dan mudah. Tetapi perlu diingat bahwa pelaksanaan ketiga tugas tersebut harus selalu diletakkan dalam rangka kita ikut ambil bagian dalam Kristus. Jadi, pelaksanaan tugas tersebut tidak bisa dipisahkan dari kehadiran Kristus. Maka ketika kita melaksanakan ketiga tugas itu, perlu disadari bahwa kita menghadirkan Kristus yang memimpin, Kristus yang mengajar, dan Kristus yang menguduskan. Di sinilah letak fokus kemuliaan dan kehormatan utama seluruh tindakan kita dalam tugas itu tetaplah Kristus.

Nah, perlu kita sadari pula bahwa ketika kita melaksanakan ketiga perutusan Kristus itu, sebenarnya kita melakukan ibadah yang luar biasa. Artinya pelaksanaan terhadap tugas perutusan itu – apa pun bentuknya – merupakan persembahan diri kita dan seluruh hidup kita sebagai kehormatan Allah. Itu harus jadi prinsip hidup kita yang utama, yakni bahwa kehormatan itu hanya untuk Allah. Maka perutusan kita adalah perutusan untuk menghadirkan Allah yang memimpin, Allah yang mengajar dan meluruskan, serta Allah yang menguduskan.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana tugas perutusan Trimunera Christi itu dijalankan pada saat ini? Salah satu tugas yang paling menantang kita para murid Kristus adalah menyuarakan kebenaran yang menjadi perutusan para nabi. Beranikah kita menjadi nabi-nabi modern di zaman serba canggih ini? Tugas menjadi seorang nabi di zaman “NOW” yang hidup dalam perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi digital sangat penting dan harus dijalankan. Perang kata-kata yang terjadi di dunia maya seakan-akan tanpa batas dan kendali hendaknya memanggil para murid Kristus untuk ikut bersuara. Tentu saja panggilan tersebut adalah menyuarakan kebenaran seperti para nabi yang berani menyuarakan suara kebenaran, yakni suara Allah.

Sayangnya keberanian kita untuk ikut bersuara di dunia internet (FB, WA, twitter, line, dll) terkadang melupakan prinsip utama kemuliaan dan kehormatan Kristus. Kita justru mudah terpancing untuk membenarkan diri atas dasar bahwa orang lain itu salah. Ingat, bahwa ketika kita bicara mengenai kebenaran dengan menyalahkan orang lain... di situlah dan pada saat itulah kita JATUH... ikut-ikutan SALAH. Mungkin kita ada yang bertanya: apa salah kalau kita memberikan dan menjelaskan suatu kebenaran? Itu sama sekali tidak salah. Yang salah adalah pada saat kita melakukan pewartaan itu, pikiran kita bukan memuliakan Allah tetapi fokus pada kesalahan orang lain. Maka arah pewartaan kita bukan lagi kemuliaan Allah melainkan untuk membuat orang lain salah dan ujung-ujungnya kita merasa benar sendiri. Inilah sikap yang sangat berbahaya: pewartaan kebenaran tetapi merendahkan orang lain. Pewartaannya tidak salah, isi kebenarannya baik dan benar, tetapi cara dan sikapnya yang tidak baik: merendahkan orang yang berbeda dengannya.

Marilah saudari-dan saudaraku, kita kembalikan fokus perhatian hidup kita hanya kepada kemuliaan Allah. Dengan demikian arah pandangan dan sikap kita akan senantiasa terjaga. Terlebih pewartaan kebenaran kita akan terjaga untuk tidak merendahkan orang lain. Mulai sekarang silakan di-cek masing-masing kata-kata, ungkapan, dan klarifikasi penjelasan kita di wadah jejaring sosial kita masing-masing (FB, group WA, twitter, line, dll) apakah ada ungkapan kita yang ternyata merendahkan orang lain? Saatnya stop dan diubah! Justru Yesus menekankan supaya pewartaan kita pewartaan yang meninggikan dan bukan merendahkan. (Fr. Ant. Joko Hermawan)