Artikel

29-Oct-2017

RD. Yustinus Joned Saputra.

Panggilan Mengasihi Allah dan Sesama

sumber: http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2015/08/21-Agsts-Rm-Aloysius-2.jpg

Kini kita memasuki minggu biasa ke 30. Dalam kehidupan bersama, baik di lingkungan Gereja maupun di tengah masyarakat terdapat begitu banyak peraturan. Peraturan itu ada yang tertulis, dan ada juga yang tidak tertulis, seperti dalam adat-istiadat. Peraturan-peraturan itu ada yang sering disebut pokok atau utama; ada yang termasuk sampingan atau tambahan. Kadang tidak mudah untuk mengerti dan memahami: manakah peraturan yang disebut pokok atau utama itu ? Bahkan hari-hari ini ‘peraturan’ mendapat identitas ketidak-jelasan ‘tuntunan’, karena hanya sekedar dibuat dan kemudian dimodifikasi untuk kepentingan ‘menyelamatkan’ diri, bukan untuk kepentingan umum. Tidak mengherankan jika dalam hidup kita hari-hari ini bermunculan banyak peraturan.

Dalam konteks yang dialami oleh Orang-orang Yahudi yang sekaligus juga beragama Yahudi, pada jaman Yesus mengenal begitu banyak peraturan. 613 pasal peraturan yang ada, mungkin membuat mereka sudah ‘blenger’ dengan peraturan. ‘Blenger’ karena peraturan itu harus dijalankan sebagai tuntunan.

Jebakan atas pertanyaan kepada Yesus “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” bisa jadi memancing Yesus supaya memberikan jawaban yang mengarah pada melebihkan aturan yang lain dan merendahkan aturan yang lain lagi. Tetapi sekali lagi, Yesus menampilkan jawaban yang tak terduga seperti yang Ia lakukan pada Bacaan Injil minggu lalu. Yesus menjawab dengan tegas, dan mengatakan bahwa hukum yang utama adalah mengasihi Allah dan sesama. Mengasihi Allah tidak bisa dipisahkan dari kasih terhadap sesama. Seluruh hukum yang lain ‘bergantung’ dari hukum utama ini. Kata ‘bergantung’ ini tidak ingin merendahkan peraturan yang lain, melainkan mempertegas bobot aturan itu tetap diarahkan pada Allah. Dengan jawaban tersebut, Yesus sekali lagi meruntuhkan jebakan Ahli Taurat sekaligus mengajak mereka kembali berpikir keras atas pertanyaan dan jawaban dari pertanyaannya sendiri.

Sesama? Yang sering dipertanyakan adalah siapa sesama kita itu? Sesama manusia itu bukan hanya mereka yang se-keluarga, satusuku, se-bangsa, satu-agama, se-paham, satu-partai, dsb. Dalam bacaan pertama (Kel 22:21-27) ditegaskan bahwa orang-orang asing, para janda, orang miskin termasuk sesama kita.

Dengan menjadikan cinta kasih sebagai satu-satunya hukum, maka kita menjadikan cinta kasih itu sebagai norma, kriteria dan ukuran dalam bertingkah-laku. Oleh karena itu, tingkah-laku dan perbuatan kita hendaknya mencerminkan cinta kasih kepada Allah dan sesama kita. dalam arti ini, kita dapat memahami perkataan Santo Agustinus: “Cintailah dan berbuatlah apa saja yang engkau sukai!” artinya, kita boleh berbuat apa saja sejauh itu didasarkan pada cinta kasih. Namun, cinta kasih itu mendapat bentuk yang paling nyata dalam pengorbanan yang kita berikan kepada Allah dan sesama. Kasih seperti itu telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus dan ribuan martir sepanjang sejarah Gereja. Kita pun diaundang untuk melakukan pengorbanan yang sama sebagai tanda bahwa kita mencintai Allah dan sesama kita. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). RD. Yustinus Joned Saputra.

Panggilan Mengasihi Allah dan Sesama

Kini kita memasuki minggu biasa ke 30. Dalam kehidupan bersama, baik di lingkungan Gereja maupun di tengah masyarakat terdapat begitu banyak peraturan. Peraturan itu ada yang tertulis, dan ada juga yang tidak tertulis, seperti dalam adat-istiadat. Peraturan-peraturan itu ada yang sering disebut pokok atau utama; ada yang termasuk sampingan atau tambahan. Kadang tidak mudah untuk mengerti dan memahami: manakah peraturan yang disebut pokok atau utama itu ? Bahkan hari-hari ini ‘peraturan’ mendapat identitas ketidak-jelasan ‘tuntunan’, karena hanya sekedar dibuat dan kemudian dimodifikasi untuk kepentingan ‘menyelamatkan’ diri, bukan untuk kepentingan umum. Tidak mengherankan jika dalam hidup kita hari-hari ini bermunculan banyak peraturan.

Dalam konteks yang dialami oleh Orang-orang Yahudi yang sekaligus juga beragama Yahudi, pada jaman Yesus mengenal begitu banyak peraturan. 613 pasal peraturan yang ada, mungkin membuat mereka sudah ‘blenger’ dengan peraturan. ‘Blenger’ karena peraturan itu harus dijalankan sebagai tuntunan.

Jebakan atas pertanyaan kepada Yesus “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” bisa jadi memancing Yesus supaya memberikan jawaban yang mengarah pada melebihkan aturan yang lain dan merendahkan aturan yang lain lagi. Tetapi sekali lagi, Yesus menampilkan jawaban yang tak terduga seperti yang Ia lakukan pada Bacaan Injil minggu lalu. Yesus menjawab dengan tegas, dan mengatakan bahwa hukum yang utama adalah mengasihi Allah dan sesama. Mengasihi Allah tidak bisa dipisahkan dari kasih terhadap sesama. Seluruh hukum yang lain ‘bergantung’ dari hukum utama ini. Kata ‘bergantung’ ini tidak ingin merendahkan peraturan yang lain, melainkan mempertegas bobot aturan itu tetap diarahkan pada Allah. Dengan jawaban tersebut, Yesus sekali lagi meruntuhkan jebakan Ahli Taurat sekaligus mengajak mereka kembali berpikir keras atas pertanyaan dan jawaban dari pertanyaannya sendiri.

Sesama? Yang sering dipertanyakan adalah siapa sesama kita itu? Sesama manusia itu bukan hanya mereka yang se-keluarga, satusuku, se-bangsa, satu-agama, se-paham, satu-partai, dsb. Dalam bacaan pertama (Kel 22:21-27) ditegaskan bahwa orang-orang asing, para janda, orang miskin termasuk sesama kita.

Dengan menjadikan cinta kasih sebagai satu-satunya hukum, maka kita menjadikan cinta kasih itu sebagai norma, kriteria dan ukuran dalam bertingkah-laku. Oleh karena itu, tingkah-laku dan perbuatan kita hendaknya mencerminkan cinta kasih kepada Allah dan sesama kita. dalam arti ini, kita dapat memahami perkataan Santo Agustinus: “Cintailah dan berbuatlah apa saja yang engkau sukai!” artinya, kita boleh berbuat apa saja sejauh itu didasarkan pada cinta kasih. Namun, cinta kasih itu mendapat bentuk yang paling nyata dalam pengorbanan yang kita berikan kepada Allah dan sesama. Kasih seperti itu telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus dan ribuan martir sepanjang sejarah Gereja. Kita pun diaundang untuk melakukan pengorbanan yang sama sebagai tanda bahwa kita mencintai Allah dan sesama kita. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).