Artikel

13-Aug-2017

Fr. Didik Mardiyanto

Menghidupi Iman Seturut Teladan Maria

sumber: https://perawanmaria.files.wordpress.com/2011/03/mary-heaven1.jpg

Kalau orang Jawa pasti kenal dengan wayang, apalagi orang-orang jaman dahulu, yang menjadikan wayang bukan sekedar sebagai tontonan tapi juga tuntunan, artinya nilai dan keutamaan dalam cerita wayang, bisa dijadikan teladan dan pegangan hidup. Saya, barangkali tinggal di lingkungan yang tidak terlalu ‘getol’ soal kebudayaan Jawa, sehingga kalau ditanyai tentang tokoh-tokoh wayang, maka jawaban saya teramat terbatas. Paling saya akan menjawab: ‘Gatotkaca’ atau ‘Arjuna’, karena dua tokoh ini adalah yang paling terkenal dari sekian tokoh wayang. Gatotkaca terkenal karena memiliki kemampuan untuk terbang dan seorang ksatria yang sakti mandraguna, sedangkan Arjuna, terkenal karena ketampanan dan keelokan wajahnya.

Dan, mungkin, hal yang membuat saya tidak terlalu kenal dan akrab dengan tokoh-tokoh wayang adalah karena mereka ini tidak ada dalam dunia nyata. Meski pagelaran wayang ada di mana-mana, namun apabila ada yang bertanya: “Tokoh-tokoh wayang itu apakah ada?” Dipastikan bahwa orang akan berkata bahwa itu sekedar cerita, meskipun orang tetap mengenal wayang sebagai cara sebuah kebudayaan, mengajarkan tentang kebaikan dan kebenaran menjadi sebuah nilai yang unggul dalam kehidupan.

Hari Minggu ini, kita merayakan hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga, yang kita kenal sebagai salah satu ajaran resmi gereja. Apakah kisahnya bisa disamakan dengan kisah wayang? Jelas tidak! Ajaran ini merupakan buah dari iman, yang tidak muncul tiba-tiba, namun lewat proses yang panjang. Tokohnya ada, dan kalau kita bercerita tentang Maria, mau tidak mau kita akan mengkaitkan dengan Yesus, PuteraNya. Peran serta Maria dalam karya keselamatan, menjadikannya mendapat anugerah yang istimewa, sekaligus menjadikannya sebagai pola hidup beriman, karena selalu menempatkan kehendak Allah sebagai yang utama. Kita tidak perlu tahu juga, tentang bagaimana cara dan prosesnya Maria diangkat ke surga, karena inti dari ajaran ini adalah kesadaran bahwa Allah menghargai peran dan andil manusia dalam karya keselamatan. Allah membutuhkan partisipasi dan peran serta manusia untuk ikut bekerja bagi keselamatan. Partisipasi itu berupa kesadaran, kemauan, kerelaan, ketulusan dan kegembiraan, sehingga kehendak Allah ini sungguh terjadi, dan menjadi sesuatu yang luhur.

Bersama Maria, yang juga menghayati kerendahaan hati serta kesederhanaan hidup, kita juga diajak untuk tetap menjadi manusia yang meneladan Maria sendiri yang menjadikan kehendak Allah sebagai ciri dan kualitas iman. Semakin kita berserah diri pada kehendak Allah, maka di situlah letak dan nilai kualitas hidup beriman kita. Kita juga hendak berdoa pula bagi saudara dan saudari kita yang hari ini akan menerima Sakramen Penguatan dari Bapa Uskup, Mgr. Paskalis Bruno Syukur. Semoga keteladanan hidup Maria menjadi salah satu penunjuk jalan sekaligus kekuatan bagi mereka dalam menghidupi iman, sehingga makin hari, iman itu makin tumbuh dan berkembang, makin mekar dan mengakar.

Selamat dan proficiat. Selamat menghidupi iman seturut teladan Maria. Tuhan memberkati. (Fr. Didik Mardiyanto)