Artikel

30-Jul-2017

Fr. Didik Mardiyanto

Melepas untuk Mendapatkan

sumber: http://www.katolisitas.org/wp-content/uploads/2011/07/pukat.jpg

Sebagai orangtua yang bertanggung jawab kepada anak-anak, maka orangtua akan melakukan segalanya demi perkembangan anak-anaknya.

Pengalaman saya semenjak kecil, kedua orangtua saya, dalam segala kekurangannya, selalu mengusahakan yang terbaik bagi kami, saya dan kakak saya. Hal itu terutama perihal pendidikan. Bapak bekerja keras, supaya dapat membiayai sekolah. Ibu selalu bangun pagi, supaya dapat mempersiapkan diri saya sebelum berangkat sekolah. Dan itu, sudah dilakukan selama bertahun-tahun, dan mereka tidak mengeluh sama sekali. Mereka yakin, bahwa hanya dengan cara demikian, mereka kelak akan bangga bila anak-anaknya dapat meraih hasil yang baik di sekolah.

Tidak mengherankan, bahwa dalam setiap prestasi, selalu ada sukacita dan kegembiraan, karena mereka telah mendapat sesuatu yang lebih besar dan lebih berarti, dibandingkan sekedar ber-usaha dan bekerja keras setiap hari. Memang kadang demikianlah hidup, kita harus berani untuk melepaskan atau mengorbankan sesuatu, supaya mendapatkan sesuatu yang lebih bermakna. Sesuatu yang dilepas dan dikorbankan itu bisa berupa: waktu, tenaga, harta, kebebasan dan seterusnya. Dan orang berani berkorban, karena di sana dia juga menaruh hati, demi sesuatu yang hendak didapatkan.

Hari Minggu ini, kita juga belajar tentang Kerajaan Surga yang diumpamakan sebagai harta terpendam dan mutiara yang indah. Saat Kerajaan Surga, dipandang sebagai harga dan mutiara melebih apa pun di dunia ini, kita tentu akan rela melepas segala yang dimiliki demi mendapatkan-nya. Namun, sayangnya, sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang yang mendahulukan usaha untuk mencari mutiara dan harta di dunia, dan menomorduakan usaha pencarian harta dan mutiara dari Kerajaan Surga. Keindahan, kenyamanan dan kenikmatan semu telah menutup mata dan hati manusia, dan membelokkan pengertian bahwa Kerajaan Surga adalah mutiara dan harta yang paling berharga melebihi apapun. Nah, kalau sudah demikian, harta dan popularitas di-tambah dengan kekuasaan bisa membuat seseorang menghalalkan segala cara, yang tentu saja tidak berkenan di hadapan Tuhan; demi untuk memperoleh harta dan mutiara dunia sebanyak-banyaknya.

Kita bisa mulai bertanya di dalam diri: “Apakah sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita sekarang ini? Apakah yang menjadi mutiara dan harta dalam hidup kita sekarang ini?” Bisa jadi adalah harta duniawi, karier, status, pasangan, keluarga, kekuasaan, dan banyak lain. Namun, kalau Kerajaan Surga adalah harta dan mutiara melebih apapun di dunia ini, apakah kita juga rela menukarnya dengan harta dan mutiara duniawi? Semoga dari hari ke hari, mata dan hati kita semakin terbuka dan menerima bahwa segala sesuatu yang ada di dunia, tidak sebanding dengan Kerajaan Surga, yang akan membawa kita sampai pada kekekalan. Mari kita belajar untuk melepaskan keduniawian kita, agar kita tidak pernah kehilangan hidup yang kekal.

Selamat melepaskan keduniawian demi mendapatkan hidup yang kekal. Tuhan memberkati. (Fr. Yoseph Didik Mardiyanto)