Artikel

06-Aug-2017

Sr. M. Verena, PRR

Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

sumber: http://i833.photobucket.com/albums/zz252/sarapanpagibiblika/Jesus-transfiguration.jpg

Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. Pesta ini sering disebut juga dengan nama Transfigurasi. Kita diajak untuk mengarahkan seluruh pandangan kepada Yesus yang dinyatakan oleh Bapa sebagai Putra-Nya yang terkasih. Sebagaimana dikisahkan dalam Injil, peristiwa penampakan Yesus atau yang dilukiskan Daniel dalam bacaan pertama “Anak Manusia” terjadi secara menakjubkan dan membuat Petrus, Yakobus dan Yohanes terpesona.

Demikian pula dalam bacaan kedua, Petrus bersaksi dan meyakinkan jemaat Allah dengan me-ngatakan, “Kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya”.

Petrus, Yakobus dan Yohanes adalah saksi mata yang telah melihat kemuliaan Tuhan dan mendengar sendiri suara Bapa yang mengakui bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi-Nya. Dalam imannya yang mendalam Petrus menegaskan kesaksiannya dengan berkata, “Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.”

Pernyataan Petrus ini mau menjelaskan bahwa ketika di dalam situasi gelap, orang tentu mem-butuhkan pelita yang bernyala. Pelita berfungsi untuk menerangi kegelapan. Dan ketika pelita itu diletakan di dalam gelap, maka pandangan serta perhatian seseorang sepenuhnya akan terarah pada pelita tersebut. Kita akan merasa bahagia, bergairah dan aman. Pun dalam kehidupan ini, ketika orang dihadapkan dengan aneka macam tantangan, persoalan, hambatan tentu yang dibutuhkan adalah kekuatan. Kekuatan yang diterima menjadi simbol kegembiraan dan keceriaan dalam menjalani kehidupan ini. Hidup yang diwarnai dengan aneka cobaan yang disimbolkan dengan kegelalapan, tentu membutuhkan terang untuk menghalaunya.

Dalam bacaan Injil yang kita dengar pada perayaan Tuhan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya ini membantu kita untuk bertumbuh dalam iman akan Yesus Kristus Putra Allah, yang pasti akan membawa sukacita dan kebahagiaan. Yesus adalah sumber terang yang bercahaya di dalam kegelapan. Injil mewartakan kepada kita tentangsukacita Allah yang ditaburkan di dalam hati manusia tujuannya adalah menyertai dan meneguhkan kita.

Berkas cahaya yang diberikan-Nya dalam peziarahan hidup kita adalah simbol kasih yang tak terpadamkan. Peristiwa di Gunung Tabor yang dialami rasul Petrus, Yakobus dan Yohanes merupakan kesaksian yang meneguhkan iman akan Yesus Kristus sebagai Putra Allah. Pernyataan yang disampaikan oleh Bapa sendiri, “Inilah Anak yang kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”, tentunya semakin menepis keraguan dan meneguhkan iman kita akan Yesus sebagai Putra Allah. Oleh karena itu, tidak perlu lagi ada kesangsian dan keraguan bahwa Yesus yang kita imani adalah sungguh-sungguh Putra Allah. Pernyataan perkenanan Allah Bapa kepada Putra-Nya sangatlah penting untuk dijadikan dasar yang kokoh bahwa Allah yang telah berkenan kepada Putra-Nya, akan juga menyertai, meneguhkan dan menguatkan kita melalui Yesus Putra-Nya dalam seluruh perjuangan dan pergumulan hidup kita. Matius secara jelas melukiskan perasaan Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mereka sungguh merasa bahagia menyaksikan penampakan kemuliaan Yesus.

Kebahagiaan ini terungkap dalam kata-kata Petrus, “Tuhan betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” Ungkapan ini mau menegaskan bahwa hidup dan tinggal bersama Yesus, Putra Allah menjadi saat yang indah dan nyaman. Sukacita dan kebahagiaan yang didapatkan, bukan dari dunia, tetapi berasal dari Allah yang sungguh hadir dalam kemuliaan Yesus. Dari wajah Yesus, kita akan merasakan aliran kasih Bapa, laksana sungai yang jernih. Dari wajah-Nya yang memancarkan kemilau cahaya kita akan mendapatkan ketenangan dan kesanggupan untuk menghadapi aneka tantangan hidup.

Dengan tinggal dan berada dekat dengan Yesus, maka kita akan merasa bahagia. Kita mesti percaya bahwa ketika harapan dan kerinduan kita sebagai orang beriman ingin hidup bahagia dan nyaman, maka yang harus diperjuangkan adalah dekat dan bersama dengan Yesus dalam setiap langkah kehidupan kita. Kita perlu membangun kemah-kemah hidup kita melalui pemberian waktu dalam doa, mendengarkan, dan merenungkan sabda-Nya.

Tanpa mendengarkan Yesus, kita tidak akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup kita. Ketika Anda mengalami tantangan, masalah atau hambatan dalam hidup, ketika kegelapan menutupi jalan kita, baiklah kita mengangkat wajah dan menengadah kepada Tuhan, dalam sujud doa kita sampai cahaya kemuliaan Tuhan benar-benar menyelubungi hati dan budi kita. Tuhan akan ada dan tinggal dalam hati dan hidup kita. Amin. (Sr. M. Verena, PRR)