Artikel

23-Jul-2017

Petrus JS

Allah Mengasihi Manusia

sumber: https://john777site.files.wordpress.com/2015/12/yesus-mengajar.jpg?w=656

Ada seorang anak mengungkapkan isi hatinya kepada orangtuanya, setiap hari merasa disuguhi kabar buruk melulu, seakan-akan tidak ada kabar yang baik di dunia ini. Itu berkaitan dengan tindak kejahatan yang setiap hari dilihatnya melalui berita TV, koran, bahkan media sosial.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan di tengah masyarakat? Meskipun kenyataannya jauh lebih banyak juga kehidupan yang baik. Ungkapan tersebut mungkin juga mewakili pertanyaan kita bersama.

Minggu ini kita disapa oleh Allah dengan Sabda yang mengagumkan. Dalam Bacaan Pertama, Allah tidak menghancurkan atau menindas seorang pendosa pun. Dia memperlihatkan kuasa-Nya melalui kesabaran dan belas kasih-Nya. Memberi kesempatan manusia untuk berubah dan bertobat.

Dalam Bacaan Kedua, Paulus mengingatkan bahwa hidup kita sebagai orang Kristen, jauh dari sempurna. Allah mengenal apa yang ada dalam hati kita. Dia memberi kita Roh Kudus untuk mengajar, dan membantu kita berdoa. Dia memberi kekuatan dan harapan.

Dalam Bacaan Injil tentang perumpamaan gandum dan lalang (Mat 13:24-30) menggambarkan Allah yang bersabar terhadap Gereja yang tidak sempurna dan terhadap orang yang lemah. Allah memberi kesempatan untuk bertobat dan bertumbuh.

Allah adalah kasih, kasih Allah tanpa batas. Allah tetap mencintai manusia biarpun manusia sering menjauh dari kasih Allah. Sejak manusia diciptakan, manusia telah diberi kebebasan untuk menentukan hidupnya. Namun dalam kebebasan itu Allah tetap memberikan rambu-rambu sebagai batas kewenangan antara Allah dan manusia. Manusia boleh melakukan apa saja, yang penting tidak melanggar rambu-rambu itu. Ketika manusia menyalahgunakan kebebasan yang diberikan oleh Allah, Allah tetap mengasihi, menyayangi manusia dengan tidak memusnahkannya. Tetapi memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Allah tetap menjanjikan keselamatan bagi manusia.

Lalang dan gandum dibiarkan untuk tumbuh bersama. Kemudian pada masa menunai akan jelas kelihatan panenan gandum, dan lalang akan dikumpulkan untuk dibakar. Allah senantiasa memberi kesempatan dengan sabar kepada manusia untuk bertobat. Pertobatan yang dikehendaki oleh Yesus adalah pertobatan yang tidak didasari oleh ketakutan akan hukuman Allah tetapi lebih didasari oleh kesadaran akan Allah yang sangat mencintai umat-Nya. Karena cinta Allah yang begitu besar itu, manusia dengan pertobatannya berniat untuk membalas kasih-Nya. Allah yang meraja menurut pemberitaan Yesus bukan pertama-tama Hakim dan Raja yang berkuasa (seperti dipikirkan tradisi Yahudi), melainkan Bapa yang penuh belas kasih dan pengampunan lebih-lebih bagi pada pendosa yang bertobat.

Dengan kuasa yang dimiliki-Nya itu, Tuhan dapat saja membinasakan alam semesta beserta manusia yang tinggal di dalamnya bila Tuhan kecewa dengan ciptaan-Nya itu. Manusia sering kali cepat-cepat menghacurkan orang lain yang dianggapnya sebagai musuh karena merasa bahwa keberadaan musuh itu mengancam dirinya. Sering juga terjadi bahwa manusia, lebih-lebih yang memiliki kekuasaan dan kekuatan, menyingkirkan orang lain yang dianggapnya tidak menyenangkan, mengganggu, atau tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Kadang manusia juga bersikap mudah menyanjung namun pada saat yang sama menjatuhkan bahkan menghancurkannya. Manusia menjadi orang benar tidak pernah berbuat salah.

Tetapi Tuhan tidak demikian. Allah menghendaki kehidupan bukan kematian. Justru karena menguasai segala sesuatu dan berkuasa untuk melakukan segala sesuatu, Tuhan mengasihi semua orang. Ia tidak menggunakan kekuasaan-Nya untuk membinasakan manusia ketika manusia tidak bertindak menurut kehendak-Nya.

Keinginan Tuhan agar manusia yang berdosa bertobat berakar pada kasih-Nya terhadap segala yang telah diciptakan-Nya. Dalam kasih Allah telah menciptakan segala sesuatu dan dalam kasih yang sama Tuhan memelihara dan mempertahankannya. Karena segala sesuatu diciptakan Tuhan, semuanya juga milik Tuhan, penyayang hidup.

Allah menampakkan kuasa-Nya dengan bersifat sabar dan lemah lembut dan mengasihi kita. Dia selalu menantikan pertobatan kita. Allah begitu optimis mengenai keberadaan kita masing-masing. Manusia diberi kesempatan begitu besar untuk berlomba-lomba menaburkan benih kebaikan dalam relasinya dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Sehingga terbangunlah dialog kehidupan dalam berjuang menata kehidupan yang baik dan bermanfaat bagi keselamatan manusia yang sejati. Maka dalam perziarahannya di dunia ini manusia senantiasa tertuju, dan terarah akan kehidupan abadi di tanah surgawi dan mulia bersama Allah.

Maka dari itu Sabda Allah yang minggu ini kita dengarkan dan renungkan memberi kesempatan yang baik bagi kita untuk menaburkan benih gandum Kristus dan dimampukan menyingkirkan lalang-lalang yang merusak kebaikan dan iman kita.

Realitasnya, kita belajar untuk mewujudkan itu: Adakah kita mengunjungi sesama umat yang jarang ke gereja atau tidak pernah ikut doa lingkungan? Adakah kita melayani sesama kita, baik yang aktif maupun tidak, juga yang berkepribadian baik maupun tidak? Masihkah kita membeda-bedakan orang dan memberi “stempel” menurut cara pandang dan penilaian kita? Atau memperlakukan mereka semua sama seperti Allah memperlakukan kita? (#petrusjs)

ALLAH MENGASIHI MANUSIA

Ada seorang anak mengungkapkan isi hatinya kepada orangtuanya, setiap hari merasa disuguhi kabar buruk melulu, seakan-akan tidak ada kabar yang baik di dunia ini. Itu berkaitan dengan tindak kejahatan yang setiap hari dilihatnya melalui berita TV, koran, bahkan media sosial.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan di tengah masyarakat? Meskipun kenyataannya jauh lebih banyak juga kehidupan yang baik. Ungkapan tersebut mungkin juga mewakili pertanyaan kita bersama.

Minggu ini kita disapa oleh Allah dengan Sabda yang mengagumkan. Dalam Bacaan Pertama, Allah tidak menghancurkan atau menindas seorang pendosa pun. Dia memperlihatkan kuasa-Nya melalui kesabaran dan belas kasih-Nya. Memberi kesempatan manusia untuk berubah dan bertobat.

Dalam Bacaan Kedua, Paulus mengingatkan bahwa hidup kita sebagai orang Kristen, jauh dari sempurna. Allah mengenal apa yang ada dalam hati kita. Dia memberi kita Roh Kudus untuk mengajar, dan membantu kita berdoa. Dia memberi kekuatan dan harapan.

Dalam Bacaan Injil tentang perumpamaan gandum dan lalang (Mat 13:24-30) menggambarkan Allah yang bersabar terhadap Gereja yang tidak sempurna dan terhadap orang yang lemah. Allah memberi kesempatan untuk bertobat dan bertumbuh.

Allah adalah kasih, kasih Allah tanpa batas. Allah tetap mencintai manusia biarpun manusia sering menjauh dari kasih Allah. Sejak manusia diciptakan, manusia telah diberi kebebasan untuk menentukan hidupnya. Namun dalam kebebasan itu Allah tetap memberikan rambu-rambu sebagai batas kewenangan antara Allah dan manusia. Manusia boleh melakukan apa saja, yang penting tidak melanggar rambu-rambu itu. Ketika manusia menyalahgunakan kebebasan yang diberikan oleh Allah, Allah tetap mengasihi, menyayangi manusia dengan tidak memusnahkannya. Tetapi memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Allah tetap menjanjikan keselamatan bagi manusia.

Lalang dan gandum dibiarkan untuk tumbuh bersama. Kemudian pada masa menunai akan jelas kelihatan panenan gandum, dan lalang akan dikumpulkan untuk dibakar. Allah senantiasa memberi kesempatan dengan sabar kepada manusia untuk bertobat. Pertobatan yang dikehendaki oleh Yesus adalah pertobatan yang tidak didasari oleh ketakutan akan hukuman Allah tetapi lebih didasari oleh kesadaran akan Allah yang sangat mencintai umat-Nya. Karena cinta Allah yang begitu besar itu, manusia dengan pertobatannya berniat untuk membalas kasih-Nya. Allah yang meraja menurut pemberitaan Yesus bukan pertama-tama Hakim dan Raja yang berkuasa (seperti dipikirkan tradisi Yahudi), melainkan Bapa yang penuh belas kasih dan pengampunan lebih-lebih bagi pada pendosa yang bertobat.

Dengan kuasa yang dimiliki-Nya itu, Tuhan dapat saja membinasakan alam semesta beserta manusia yang tinggal di dalamnya bila Tuhan kecewa dengan ciptaan-Nya itu. Manusia sering kali cepat-cepat menghacurkan orang lain yang dianggapnya sebagai musuh karena merasa bahwa keberadaan musuh itu mengancam dirinya. Sering juga terjadi bahwa manusia, lebih-lebih yang memiliki kekuasaan dan kekuatan, menyingkirkan orang lain yang dianggapnya tidak menyenangkan, mengganggu, atau tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Kadang manusia juga bersikap mudah menyanjung namun pada saat yang sama menjatuhkan bahkan menghancurkannya. Manusia menjadi orang benar tidak pernah berbuat salah.

Tetapi Tuhan tidak demikian. Allah menghendaki kehidupan bukan kematian. Justru karena menguasai segala sesuatu dan berkuasa untuk melakukan segala sesuatu, Tuhan mengasihi semua orang. Ia tidak menggunakan kekuasaan-Nya untuk membinasakan manusia ketika manusia tidak bertindak menurut kehendak-Nya.

Keinginan Tuhan agar manusia yang berdosa bertobat berakar pada kasih-Nya terhadap segala yang telah diciptakan-Nya. Dalam kasih Allah telah menciptakan segala sesuatu dan dalam kasih yang sama Tuhan memelihara dan mempertahankannya. Karena segala sesuatu diciptakan Tuhan, semuanya juga milik Tuhan, penyayang hidup.

Allah menampakkan kuasa-Nya dengan bersifat sabar dan lemah lembut dan mengasihi kita. Dia selalu menantikan pertobatan kita. Allah begitu optimis mengenai keberadaan kita masing-masing. Manusia diberi kesempatan begitu besar untuk berlomba-lomba menaburkan benih kebaikan dalam relasinya dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Sehingga terbangunlah dialog kehidupan dalam berjuang menata kehidupan yang baik dan bermanfaat bagi keselamatan manusia yang sejati. Maka dalam perziarahannya di dunia ini manusia senantiasa tertuju, dan terarah akan kehidupan abadi di tanah surgawi dan mulia bersama Allah.

Maka dari itu Sabda Allah yang minggu ini kita dengarkan dan renungkan memberi kesempatan yang baik bagi kita untuk menaburkan benih gandum Kristus dan dimampukan menyingkirkan lalang-lalang yang merusak kebaikan dan iman kita.

Realitasnya, kita belajar untuk mewujudkan itu: Adakah kita mengunjungi sesama umat yang jarang ke gereja atau tidak pernah ikut doa lingkungan? Adakah kita melayani sesama kita, baik yang aktif maupun tidak, juga yang berkepribadian baik maupun tidak? Masihkah kita membeda-bedakan orang dan memberi “stempel” menurut cara pandang dan penilaian kita? Atau memperlakukan mereka semua sama seperti Allah memperlakukan kita? (#petrusjs)