Artikel

11-Jun-2017

RD. Yustinus Joned Saputra

HARI RAYA TRI TUNGGAL MAHAKUDUS

sumber: http://komkat-kwi.org/sites/default/files/field/image/trinitas-hidup-katolik.jpg

ALLAH ITU BAPA KITA :

Pribadi Ilahi Pertama disebut Bapa karena inilah cara Yesus berbicara mengenai Dia. Berkat Roh Kudus Bapalah yang melahirkan Pribadi Kedua, Sabda Kekal yang adalah “cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah” (Ibr 1:3).

Allah Bapa :

6 “Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." 8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." 9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. 10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. 11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri” (Yoh 14: 6-7. 9-11).

Allah Bapa adalah sumber kehidupan kita; Dialah yang mengatur pertumbuhan hidup kita; Dia juga yang memberi hidup. Dia adalah tokoh utama dalam kehidupan kita. Dia memandang kita dengan kebaikan dan kasih. Allah Bapa itu “Sang Murbeng Jagat/Dumadi” (Pencipta Alam Semesta); “Sang Among Tuwuh” (Pengatur atau Pemelihara Pertumbuhan); “Ingkang Paring Gesang” (Pemberi hidup). Musa memberitahu kepada umat Israel bahwa bukan hanya Pencipta mereka, melainkan juga Bapa mereka. Bangsa Israel mengalami kasih ke”bapa”an Allah hadir terutama dalam kaum miskin, anak yatim-piatu dan para janda (lih. Mzm 68:5-6). Demikian Yesus menyebut Allah sebagai “Bapa” (Mat 6:9; 23:9).

Mengapa Allah disebut “Bapa”? Allah adalah Bapa semua umat manusia karena Allah telah menciptakan semua orang. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” Kej 1:27). Apabila kita menyebut Allah “Bapa”, kita menggunakan bahasa iman. Menyebut Allah “Bapa” tidak berarti membatasi Allah pada jenis kelamin pria. Allah bukanlah pria atau wanita; Allah itu mengatasi pembagian semacam ini. Kendati demikian ada Nabi yang menyebutkan “Allah itu ada kemiripan dengan seorang ibu”. Nabi Yesaya menyerukan: “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem” (Yes 66:13). Daud pernah memberi motivasi kepada umat Israel agar berharap kepada Allah “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku” (Mzm 131:2).

Sementara itu kita mesti mengerti bahwa apabila kita menyebut Allah “Bapa”, maksudnya untuk membantu kita mengalami kasih Allah yang penuh ke”bapa”an, yang diperlihatkan dengan bermacam cara :

1.Allah akan memenuhi kebutuhan anak-anakNya : (Lukas 12: 23-31).

2.Allah sangat mengasihi kita sehingga Dia mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan kita : (Yoh 3:16-17; 1 Tim 2:4; lih: Yer 31:3; ).

3.Allah berbagi dan membagikan hidup ilahi-Nya dengan semua orang : (1 Yoh 3:1-3; 2 Ptr 1:4).

4.Allah itu penuh belas kasih dan memperlihatkan belas kasihan-Nya kepada setiap pendosa dan mengampuninya : (Mzm 103:8.11.17; Luk 15:7).

Akhirnya sebagai kesaksian akhir Perjanjian Lama, suatu ktuipan dari Kitab Sirakh, khususnya dalam sebuah doa: “Ya Tuhan, Bapa dan Penguasa hidupku” (Sir 23:1), “Berserulah aku kepada Tuhan, Bapa tuanku” (Sir 51:10).

YESUS ITU ANAK BAPA :

Pribadi Ilahi Kedua disebut Putera karena Dia adalah gambaran yang sempurna dari Bapa: “Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar, Dia dilahirkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa” (Syahadat Nicea).

Allah Putera :

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1: 1-3.14).

Yesus Pribadi Kedua, menjadi manusia dan hidup serta mati di dunia. Sebagai Allah, Yesus disebut Sabda, Pengetahuan abadi Bapa. Itulah sebabnya Rasul Yohanes yang berbicara mengenai Pribadi Ilahi Kedua itu.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2: 5-7).

Yesus melepaskan rupa Allah dan mengambil rupa yang sama dengan manusia. Ia hadir dalam rencana Allah sejak semula; menjadi manusia dan hidup di antara kita adalah Penebus kita dan teladan bagi hidup kita. Manusia Yesus dari Nazaret, seorang Yahudi yang dalam iman-Nya, menyadari diri secara khusus dan istimewa sebagai Anak Bapa Ilahi. Sangat kita kenal seruan-Nya: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27).

Yesus menekankan perbedaan dengan Allah, yang disebut Bapa-Nya:

Dalam Injil Mateus dinyatakan: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri” (Mat 24:36).

Yesus berdoa kepada Bapa-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (Mrk 14:36).

Ketika Yesus berumur 12 tahun berada di Kenisah ditanya orangtua-Nya (Yusuf + Maria): Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49).

Demikian pula ketika Yesus tergantung kayu salib berkata : “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34); Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring menyerahkan nyawa-Nya: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk 23:46).

Inilah kesaksian dalam Surat kepada umat Ibrani: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr 5:7-8).

ALLAH ROH KUDUS :

Pribadi Ilahi Ketiga disebut Roh Kudus karena Dia adalah Pribadi Kasih Ilahi, yang dihembuskan oleh Bapa dan Putera. Dia adalah Tuhan yang menghidupkan. Ia berasal dari Bapa dan Putera, Yang bersama Bapa dan Putera disembah dan dimuliakan. Dia bersabda dengan perantaraan para Nabi” (Syahadat Nicea, tahun 325).

Allah Roh Kudus :

“Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit 3:22 dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:21-22).

Ketika Yesus berubah rupa di hadapan Petrus, Yakobus dan Yohanes, Bapa berbicara dari surga: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7). Putera terkasih mencerminkan hidup dan hubungan dalam Tritunggal, kalau Roh dalam lambang awan menaungi Yesus, dan suara Bapa dari langit dan berkata: “Inilah Putera-Ku terkasih, dengarkanlah Dia!” Kata “dengarkanlah Dia” ditambahkan pada pewahyuan pertama di tepi sungai Yordan. Yesuslah pembangun Perjanjian Baru. Yesus melengkapi ajaran para Nabi, dengan mereka Yesus itu membicarakan penggenapan perjanjian dalam korban Salib, melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya di Yerusalem. Di Bukit Kavari akhirnya Yesus mempersembahkan korban penebusan, yang berkenan ke pada Bapa-Nya.

Roh Kudus menghimpun seluruh bangsa manusia. Kedatangan Roh Kudus di ruang atas Yerusalem itu menghimpun kembali yang diceraikan di Babel dengan membangun menara. Bahasa yang dikacaukan tidak dimengerti dipersatukan oleh Roh lagi. Pada peristiwa Pentakosta, kedatangan Roh Kudus ditampakkan dengan suara angin yang keras dan lidah-lidah api :

“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis 2: 1-4).

Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru berbicara mengenai Roh Kudus, Roh Allah, mengenai Roh yang adalah Allah sendiri dan yang melalui-Nya Allah berkarya. “Pada mulanya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:1-2). Roh Allah itu juga turun atas orang yang mau dipakai Tuhan dalam karya-Nya; dan Allah berkarya dalam sejarah melalui mereka , “dari dalam”: Yosua (Bil 27:18); Otniel (Hak 3:9-10); dan terutama Daud (1 Sam 16:13). Namun kalau manusia tidak mengikuti bimbingan Roh, ia ditinggalkan oleh-Nya, misalnya Saul (1 Sam 16:14).

Yesus berbicara mengenai Roh Kudus sebagai Pribadi yang akan diutus Dia bersama Bapa, untuk menerangi dan mengilhami kita. Roh Kudus adalah kebijaksanaan Allah, yang hidup dalam diri kita dan membimbing kita kepada seluruh kebenaran. Allah memberikan diri kepada manusia dengan dua cara: dalam Roh dan Kebenaran. Dia adalah Roh Kebenaran (Yoh 14:17; 16:13), yang keluar dari Bapa (Yoh 15:26).

Gereja secara tradisional menerangkan bahwa Roh Kudus sebagai Pribadi Ilahi Ketiga secara abadi “berasal” dari Bapa dan Putera. Melalui kekuatan Roh Kudus, Allah diwahyukan kepada kita dengan memungkinkan kita mengetahui Sabda Bapa. Kedatangan Roh Kuduslah yang dijanjikan Yesus kepada para murid-Nya. Roh Kuduslah yang memungkinkan para Rasul berkotbah pada saat Pentakosta. Berkat ilham Roh Kudus, Kitab Suci dituliskan; dan Roh Kuduslah yang terus membimbing kehidupan dan tugas perutusan Gereja. (RD Yustinus Joned Saputra)