Artikel

18-Jun-2017

Petrus JS

Menyambut Ekaristi Menjadikan Kita Siap Membagi Hidup

sumber: http://2.bp.blogspot.com/-wokuMD6BhKA/UalTD-J8nhI/AAAAAAAAAPY/pQHm9KkI_CQ/s1600/body_of_christ1.jpg

Seorang anak kecil setiap mengikuti Perayaan Ekaristi bersama orang tuanya selalu bertanya, apakah yang diterima saat komuni itu? Orangtuanya selalu tidak memberi jawaban yang memuaskan hati si anak. Akhirnya si anak menyimpan pertanyaannya dalam hati sambil mencari jawab setiap kali ia mengikuti Perayaan Ekaristi. Hingga tiba waktu baginya dengan memenuhi segala persyaratan, ia pun dapat menerima Hosti Kudus yang pertama kalinya.

Apa Sakramen Ekaristi itu? Itulah yang mengawali pikiran untuk memahami tentang Ekaristi, yang merupakan tanda kesatuan, ikatan cinta Kristus, perjamuan Paskah, saat Kristus diterima sehingga jiwa dipenuhi rahmat dan jaminan kemuliaan yang akan datang diberikan kepada kita.

Bagi orang beriman Katolik, merayakan Ekaristi berarti merayakan ucapan syukur atas karya keselamatan Allah, yang terjadi dalam wafat dan kebangkitan Kristus, serta mengenang kembali peristiwa perjamuan terakhir yang diadakan oleh Kristus bersama dengan murid-murid-Nya.

Ekaristi artinya syukur. Nama yang lebih lazim dikenal umat ialah Misa. Ekaristi menghadirkan kembali pengorbanan Kristus di Kayu Salib yang menyelamatkan manusia. Syukur karena Allah dulu, sekarang dan selama-lamanya menyelamatkan manusia melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Misa berasal dari sapaan penutup dalam bahasa latin oleh pemimpin perayaan (imam) untuk mengakhiri perayaan Ekaristi, Ite missa est. Artinya “pergilah/pulanglah kamu diutus”. Diutus kemana dan untuk apa? Untuk mewartakan kabar gembira tentang keselamatan bagi semua orang yang dikerjakan Allah melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus itu.

Dalam Ekaristi, kita kenangkan hidup dan pengorbanan Yesus Kristus. Dengan korban salib-Nya, Ia memperlihatkan cinta Allah bagi keselamatan kita. Pada hari raya Tubuh dan Darah Kristus ini, kita bersyukur atas kebaikan Allah. Rasa syukur itu hendak kita nyatakan dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus: mempersatukan diri kita dengan-Nya, menyerahkan diri ada kebutuhan orang lain, dan memberikan diri bagi kegembiraan bersama.

Ekaristi adalah jaminan bahwa Allah menyertai kita. Ekaristi adalah bukti kesetiaan Allah yang selalu mau mendampingi kita, seperti Ia menyertai Yesus dahulu. Menerima tubuh dan darah Kristus berarti menerima Tuhan, bertemu dengan Tuhan, dan mempersilahkan Tuhan hadir dalam diri kita. Yesus berkata, “Tubuh-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman”. Dan itu adalah rahmat Allah, pemberian Allah, cinta Allah. Allah mencintai kita. Untuk itu Ia menjadi manusia, sama seperti manusia. Bukan hanya itu, Ia memberikan tubuh darah-Nya untuk kita.

Roti Ekaristi yang satu itu dibagi-bagikan kepada kita satu persatu dan menjadikan kita yang banyak menjadi satu Gereja, satu tubuh Kristus. “Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persatuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:16-17).

Dalam Ekaristi, kita dijadikan semakin serupa dengan Kristus. Seperti halnya roti Ekaristi yang diambil, diberkati, dipecah-pecahkan dan dibagi-bagikan, demikian hidup kita. Kita adalah pribadi-pribadi yang diambil, artinya dipilih dan dikehendaki Tuhan. Roti adalah Tubuh Kristus dan anggur adalah Darah Kristus. Ia hadir oleh kekuatan-Nya, Ia hadir dalam sabda-Nya. Akhirnya, Ia hadir bila Gereja bermohon dan bermazmur (SC 7). Dengan kata lain, kehadiran Yesus Kristus terjadi dalam seluruh perayaan Ekaristi, dari awal sampai akhir, dan dalam semua peserta perayaan, baik imam maupun umatnya.

Ekaristi adalah pusat seluruh kehidupan kristiani. Ekaristi bukan saja “peringatan” sengsara dan wafat Tuhan. Melalui Ekaristi sengsara dan wafat itu dihadirkan kembali secara sakramental. Artinya dalam bentuk lambang atau tanda yaitu roti dan anggur. Pada saat Gereja merayakan Ekaristi yaitu peringatan akan wafat dan kebangkitan Tuhan, peristiwa utama penyelamatan manusia sungguh-sungguh hadir dan terlaksanalah karya penebusan kita. Sesudah kata-kata konsekrasi umat menyerukan “wafat Kristus kita memaklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan”.

Tidak ada hidup yang kebetulan. Keyakinan dan pengalaman sebagai pribadi-pribadi yang dipilih dan diberkati oleh Tuhan akan membuat kita siap untuk dipecah-pecah dan dibagi-bagikan menjadi berkat bagi semakin banyak orang. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dalam Ekaristi, kita “memecah-mecah satu roti yang memberi kita obat keabadian, penawar racun kematian, dan makanan yang membuat kita hidup selamanya dalam Yesus Kristus” (Santo Ignatius dari Antiokhia).

Setiap individu sebenarnya dapat belajar menghayati Perayaan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup kristiani. Agar dapat menghayati sebagai puncak hidup kristiani, keluarga perlu membiasakan diri sedikit demi sedikit untuk “mendaki menuju puncak” tersebut dalam doa sehari-hari di dalam keluarga.

Menerima roti Ekaristi dengan mantab, yang selalu dijawab dengan “Amin”, mengubah hidup kita sehingga serupa dengan Yesus atau sekedar suatu upacara tanpa makna bagi kita? Siapkah kita untuk mengikuti Ekaristi dari awal sampai akhir, dengan tidak datang terlambat dan pulang lebih dulu? Dengan menyambut roti Ekaristi adakah kita menjadi lebih siap untuk “membagikan” hidup kita sehingga orang lain semakin bahagia dan diselamatkan? (#petrusjs)