Artikel

12-Mar-2017

Petrus JS

Berdirilah, Jangan Takut

sumber: http://parokicorneliusmadiun.org/wp-content/uploads/2014/03/yesus-gunung-tabor.jpg

Pada hari Minggu Kedua Prapaskah ini kita kembali berhadapan dengan Yesus dengan tampilan berbeda. Minggu lalu, Injil menggambarkan Yesus mewakili manusia yang berhadap-hadapan dengan Iblis.Yesus keluar sebagai pemenang dari perang melawan iblis itu, demikianlah setiap orang yang berperang bersama dan seperti Yesus melawan iblis dan segala kuasa gelapnya, akan keluar sebagai pemenang. Bahwa rahmat lebih unggul daripada dosa.

Penampakan Yesus dengan mulia di gunung Tabor yang dikisahkan Injil hari ini, menampilkan Yesus yang Ilahi. Melalui tubuh insani-Nya seperti ada pada kita, bersinarlah kemuliaan Allah. Sekaligus diperlihatkan kepada kita arah yang menjadi tujuan perjuangan kita di dunia ini yaitu “mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal” (2 Tim 2:10). Singkatnya, kita dapat melihat diri kita sendiri yang lemah dalam Yesus yang digodai. Kita seharusnya juga mengenali Yesus yang dimuliakan di atas gunung pada diri kita yang sama sebagai pemenang. Menjadi mulia seperti Yesus itulah arah dan tujuan hidup kita. Ketiga murid yaitu, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, mewakili kita untuk menyaksikan Yesus dimuliakan Bapa-Nya di atas gunung. Itulah awal kemuliaan abadi yang diberikan Bapa kepada Yesus sesudah penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Allah Yang Maharahim hendak mengembalikan manusia kepada-Nya agar manusia dapat mengalami kemuliaan sebagaimana Yesus di gunung Tabor.

Panggilan Abraham adalah permulaan usaha penyelamatan oleh Allah. Abraham taat pada panggilan Allah. Pada minggu ini kita belajar taat pada panggilan Tuhan, taat pada jalan salib Tuhan. Ketaatan pada panggilan Tuhan adalah jalan yang benar menuju kemuliaan Tabor.

Ketiga murid yang menyaksikan kemuliaan Yesus, sama seperti Musa menyaksikan kemuliaan Allah di gunung Sinai atau Nabi Elia di gunung Horeb. Sinar kemuliaan Allah yang sama akan meliputi semua orang yang diselamatkan pada akhir zaman (Why 21:23). Yesuslah manusia pertama yang dimuliakan oleh Allah Bapa karena Allah Bapa berkenan kepada-Nya (Mat 17:5).

Kita diperkenankan mengalami seperti tiga murid Yesus itu kemuliaan Allah yang hadir di tengah-tengah umat-Nya. Yesus utusan-Nya kini hidup mulia pula di tengah-tengah umat-Nya sesudah melewati kesengsaraan, kematian dan kebangkitan. Seperti kepada murid-murid dulu, sekarang pun Allah menyodorkan Yesus kepada kita sebagai Juru Selamat. “Inilah Anak yang Kukasihi, Kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (Mat 17:5).

Oleh karenanya, bilamana kita sebagai anak-anak Allah dan murid-murid Yesus menghadapi kesulitan atau rintangan apa saja, bahkan kematian sekalipun, janganlah kecil hati. Jangan pula menghindar atau membiarkan diri terbuai oleh harapan atau mimpi-mimpi kosong. Sebaliknya seperti Yesus kita harus berani menghadapi segala beban dan cobaan hidup dengan setia dan tegar. Allah sendiri akan memberikan kekuatan dan menjamin kesuksesan kita dalam perjuangan di dunia ini. Kita kerap kali tersungkur tak mampu tengadah akibat beratnya beban hidup. Tidak jarang kita tiarap tak berdaya ketakutan diliputi kecemasan akibat tertindih cobaan tanpa henti. Atau tak berani maju akibat bayangan akan kesulitan dan tantangan di depan yang mengerikan. Pada saat itu, percayalah, Allah dalam Yesus dengan lembut menjamah kita dengan kata-kata “Berdirilah jangan takut!” (Mat 17:7). Yesus yang sama itu saat ini hadir dalam Ekaristi dengan kuasa dan kemuliaan-Nya. Dia menyentuh kita untuk menghibur, menguatkan, dan membesarkan hati kita agar tetap setia dan taat melanjutkan perjuangan bersama dan seperti Dia. (Petrus JS)