Artikel

26-Feb-2017

RD. Robertus Eeng Gunawan

Don’t Worry , Jangan Cemas !!

sumber: https://sangsabda.files.wordpress.com/2016/06/2011-10-034-sermon-on-the-mount-the-lords-prayer-1920x1080.jpg?w=570&h=321

Ada serombongan anak-anak SMP Mardi Yuana sedang berwisata di kebun binatang Ragunan. Mereka ini sangat tertarik dengan perilaku segerombolan monyet yang kelihatan lucu-lucu. Kenapa bisa lucu ya? Mereka ini tertawa dan menirukan gerakan-gerakan anak monyet itu. Mereka sangat lah menikmati perilaku anak-anak moyet itu. Di depannya, guru mereka memandang dengan cemas. Sebentar-sebentar melihat jam tangan. Dan kemudian berteriak,”Anak-anak, cepatlah ! Kalau tidak cepat engkau tidak akan melihat apa-apa……!”

Sebuah refleksi: Sebenarnya siapa yang tidak melihat : anak-anak atau bapa/ibu Guru ??

Manusia kadang memang terlalu cemas. Terlalu kuatir dengan apa yang akan dimakan, apa yang akan diminum, atau takut tidak bisa melihat banyak.

Tuhan menunjuk pada burung-burung di langit ( Mat.6:26 ). Apakah burung-burung itu tidak bekerja? Mereka bekerja, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa. Namun mereka tidak cemas, karena Bapa kita di surge menyelenggarakan hidup mereka.

Dalam bacaan pertama, Yesaya membandingkan cinta Tuhan seperti seorang ibu. Ibu manakah yang dapat meninggalkan anaknya ? Pun demikian, Tuhan mengasihi kita lebih daripada seorang ibu. “ Sekalipun dia melupakan-nya, Aku tidak akan melupakan engkau ( Yes 49: 15 ).

Menyadari bahwa Tuhan begitu menyayangi kita, seharusnya kita tidak terlalu kuatir dan cemas dengan hidup. Saat kita tidak kuatir justru lebih berkualitas hidup kita karena dapat menikmati saat ini dan di sini. Kita lebih berfokus dalam bekerja. Sebaliknya, kalau kita di dera perasaan kuatir, hati dan pikiran kita berayun-ayun dengan kekecewaan di masa lalu dan kecemasan terhadap masa yang akan datang, sehingga hidup kita malah kurang berkualitas di dalam menghidupi saat ini. Saudaraku, marilah belajar untuk selalu bersyukur dan tidak terus kuatir akan hidup yang diselenggarakan Tuhan bagi kita.